Bandung, pasarbarubandung.wordpress.com, 2 Agustus 2012

Penjualan uang rupiah dengan kedok penukaran uang rupiah marak dilakukan di seputaran Gedung Bank Indonesia Bandung. Penelurusan pasarbarubandung.wordpress.com mengungkapkan bahwa ada orang dalam Bank Indonesia yang ikut terlibat dalam proses jual beli uang berkedok penukaran uang rupiah tersebut. Dalam wawancara yang dilakukan oleh pasarbarubandung.wordpress.com ditengarai adanya campur tangan pihak oknum internal Bank Indonesia Jawa Barat.

Beberapa karyawan yang diwawancarai pasarbarubandung.wordpress.com mengungkapkan bahwa sepanjang bulan puasa sampai dengan tanggal 16 Agustus 2012 yang akan datang pihak Bank Indonesia sebenarnya membuka kesempatan untuk penukaran uang langsung di Bank Indonesia, mulai pukul 09.00 sampai pukul 16.00. Akan tetapi penukaran uang ini tidak hanya dilakukan pada saat menjelang Ramadhan saja. Pada hari biasa pun penukan uang bisa dilakukan sejak pukul 09.00 sampai pukul 12.30, khusus bulan Ramadhan diperpanjang waktu penukaran uangnya.

Majelis Ulama (MUI) Jabar melalui Ketua Komisi Fatwanya,Prof.Dr.Salim Umar kembali menegaskan bahwa kegiatan tersebut masuk kategori haram.Hal tersebut disampaikam Salim Umar, Jum’at (27/07/2012)  usai mengikuti seminar di Gedung Bank Indonesia Kanwil Jabar. Dirinya menjelaskan bahwa aktivitas jual beli uang bersifat haram karena uang bukanlah komoditas jual beli.

“Uang hanyalah alat tukar dalam bertransaksi saja.Maka kalau uang tersebut ditukar dengan uang lagi namun ada kurang atau lebihnya maka masuk kategori riba.Tidak boleh uang Rp.100 ribu di tukar dengan lembaran Rp.10 ribu hanya dapat 9 lembar atau tinggal Rp.90 ribu, harus sama,”jelasnya.

Beberapa ulama di lingkungan pesantren juga mengharamkan proses jual beli uang ini. Salah satunya adalah Pengasuh Pondok Pesantren Assaidiyah Jamsaren Kota Kediri KH Anwar Iskandar yang menyatakan keharaman usaha jasa penukaran uang ini, karena pihak penjual jasa sudah menentukan uang yang harus dibayar konsumen sebelum transaksi.

“Ini berbeda jika penukaran uang dengan jumlah yang sama dan pengguna jasa memberi uang jasa sebagai ongkos tanpa ditetapkan terlebih dahulu ,” ujar Anwar.

Penjualan uang rupiah ini marak di bulan Ramadhan karena memang masyarakat membutuhkan banyak uang pecahan kecil untuk tradisi membagikan uang kecil kepada anak-anak, sanak saudara sebagai wujud rasa syukur pasca Puasa dan bahkan di beberapa wilayah menajdi tradisi yang menarik. (VIJAY)